Saturday, 03 December 2005

Minggu Pagi Terang Bulan


Minggu, jam 06 pagi

            Minggu pagi terang bulan. Hawa dingin sekitar kampus UIN Jakarta menyayat-nyayat tubuhku. Rasa kantuk pun ikut serta setelah menemani malam lepas menerawang masa depan suram.  

Sejak aku masih SMU, aku punya keinginan ingin jadi penulis cerpen. Aku sudah banyak membuat cerpen, tetapi sayang sekali, cerpen – cerpenku hanya kusimpan dalam memori hidup alias kepala saja, tanpa ada tindak lanjut untuk mempublikasikannya kepada khalayak umum. ‘Malas’ barangkali itu yang membuat aku selalu menyimpannya rapi di memori paling dalam pada otak yang jika ingin dibuka lamanya mirip kerja komputer sebelum Pentium satu.

Pernah aku memaksakan diri untuk menulis cerpen dan akhirya selesai, kemudian dikembalikan lagi oleh media cetak karena kurang popular. Setelah itu, gairah untuk menulisku sama sekali tiada berdarah, beku, masih untung hanya koma. Pernah pula aku berbagi dan mencuri ilmu dari penulis yang sudah mapan dan terkenal, tanggapannya,

“Tulis! Tulis! Tulis saja, meski kamu tak ingin mempulikasikannya” katanya dengan serius.

“Malas ah, nggak mau” jawabku

“Bagaimana mau jadi penulis, kalau lakumu hanya berangan-angan saja” tambahnya lagi, dan setelah hari itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi.

 

Sabtu, Taman Perpus,  jam 09.00 malam

Rim, begitu biasanya Nola memanggilku. Ia menyingkat julukanku, Mr. Dream. Nola perempuan cantik yang rajin menuliskan cerpenku, walau namaku tak pernah terpampang sebagai penulisnya, kalau pun terpampang paling hanya figuran yang menderita.

“Malam Rim, lama nuggu ya? maaf deh, lain kali enggak terlambat lagi” sapanya mengawali perjumpaan yang entah keberapa kali teradi setiap malam minggu.

“Malam juga, perasaan tiap malam minggu kamu selalu ngomong begitu, jangan cemberut gitu dong, iya gw maafin”

“Ada cerita baru lagi nggak” lanjutnya, sambil menyodorkan  kopi hitam minuman khasku, sebab sudah rutin setiap malam minggu.

“Ada” jawabku pendek, sebab saat itu aku sedang melihat bintang jatuh, kemudian dalam hatiku aku meminta kepada Tuhan semoga Ia menjadikan aku penulis cerpen.

“Tentang apa?”

“Maunya?”

“Maunya sih tentang kamu yang asli”

“Loh kok, tentang aku?”

“Iya, aku mau tentang kamu, sebab saat ini aku sedang tertarik sama kamu”

“Ah basi, jangan menggodaku seperti itu, aku takkan tergoda, kamu merasa tertarik ya karena aku sedang menarik tanganmu”

“Jangan bercanda, aku serius nih”

“Iya, tapi lihat dulu di langit ada bintang jatuh” sambil kuangkat kepalnya menghadap ke langit, lalu kusuruh memejamkan mata dan membuat permohonan.

“Rim, apa yang kau minta?” ia tampak penasaran, melihat mimikku yang sengaja kubuat seperti sangat berharap.

“Kamu dulu dong, masa laki-laki duluan terus” dalam hatiku ada harapan besar tentang kebersamaan kami yang sudah empat tahun.

Angin lembut menerpa wajahnya mesra, rambutnya yang sebahu menjadi terurai, remang lampu taman memberi efek warna yang  indah, wajahnya menjadi  cantik sekali malam ini, farfum lavender yang menjadi khasnyapun ikut-ikutan menggodaku, diam-diam aku memperhatikan wajahnya dan menaruh perhatian padanya.

“Ayo cepat, kok malah melamun, aku tahu pasti kamu malu, sebab yang kamu minta pada-Nya tentang aku kan?” desakku, sambil kucubit pipinya.

“Sakit tahu! memang iya, yang aku aku pinta tentang kamu, semoga cerita kamu malam ini bagus sekali dan menjadi juara satu di festival nantii”.

Gondok dan kesal keadaanku, dan tak biasanya malam ini aku tak bisa menyembunyikan kesalku, padahal ia memang begitu sifatnya dan hampir saja aku mau mencubitnya lebih keras lagi.

“Sudah dong, sakit tahu” ia menjadi marah

“Nol, marah aja terus, kalau kamu marah kamu tambah cantik deh” godaku, sebab itu satu-satunya jalan mereda marahnya karena ia tak suka disebut cantik.

“He Tukang Mimpi, kamu mau curang ya, kamu belum menceritakan keinginanmu” geramnya manis sekali.

“Mau tahu? aku meminta ……..aku meminta….aku meminta….jadi penulis!” Sayang, lagi-lagi aku kesal dibuatnya, ia malah mentertawakan keinginanku, ia ceria sekali seakan tak ada beban, untunglah aku tak begitu gondok, sebab wajah ayunya selalu jadi obatnya.

“Tukang Mimpi sepertimu mau jadi penulis, mimpi kalee”.

“Eh jangan salah, aku sudah semangat lagi, dan mau jadi penulis lagi”.

“Ia aku dukung, tapi sekarang ayo mulai ceritanya, supaya aku tak kepagian pulangnya”

“Dari mana dulu?”

“Terserah, kamu yang mau cerita”

“Ceritanya kan tetang aku, dan biasanya yang dibuatin biografi kan diwawancara” aku menggodanya lagi.

“Udah ah, cepetan cerita”

Angin tak pernah berhenti membelai kami, bintang gemintang masih asik mengintip bersama purnama yang telanjang bulat di depan semesta, binatang malampun turut serta mengiringi dengan yanyian keceriannya.

Seperti biasanya waktu tiada henti menjadi saksi yang abadi atas perjalan hidupku, dan atas setiap desir nafas yang kuhembuskan setiap saat. Aku terus bercerita tanpa beban dan sesekali memperhatikan raut wajah Nola yang sangat antusias mendengarkan cerita perjalanan hidupku, tak satupun dari cerita itu yang aku sembunyikan.

Memang cantik, gumamku dalam hati. Nola Putri Sariningsih perempuan cantik bintang kampus yang kesehariannya hanya bersamaku manusia biasa yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan ningratnya, tetapi meskipun ia ningrat tak ada sedikitpun kesombongan yang terpancar di aura wajahnya, pun dengan peringainya yang ia tambah dengan kepintaran yang luar biasa.

“Sudah selsesai? pinjam bahu, aku mau menagis, maaf, aku menangisi kisahmu” sambil memelukku kemudian ia menangis. Aku bingung, aku sendiri yang menjalani kisahnya tak pernah menangisi perjalanan ini.

“Sudahlah tak perlu menangis seperti itu, aku sendiri yang menjalani tak pernah menngisinya” ujarku, sambil kemudian mengusap air mata yang menetes di pipinya.

“Sudah pagi, sebaiknya kamu segera pulang, sebentar lagi ayam berkokok, lagi pula masih banyak pekerjaan yang harus kamu selasaikan besokkan?”

“Kamu sendiri?” tanyanya begitu lirih

“Biarlah aku habiskan malam ini untuk kembali merenungi perjalanan ini, lagi pula aku belum mengantuk”

“Kalau begitu sampai jumpa, terima kasih atas semua ceritamu, dan sekali lagi maaf, kalau aku sering merepotkanmu, sampai jumpa” ia berkata sambil memelukku, kemudian menciumku tak seperti biasannya.

_____________***____________

Minggu, jam 01.20 pagi

Nola sudah berlalu  dari  taman, rembulan masih saja tetap telanjang menatap keraahku dan menemani perjalanan Nola. Bintang masih asik mengintip. Nyanyian malam masih terus mengalun dengan lamban dan semakin lamban. Dingin maki erat memeluk tubuh ini. kegelisahan tetap bertanya soal kebijakan hidup yang masih di ambang surga.

Aku makin tenggelam dalam malam. Rasa hati enggan menyambut pagi, tapi ia sudah menepi. Aku malu bertemu matahari, sebab ia selalu tepati janji. Nola, wajahnya masih terbayang, bibirnya masih terasa di pipiku, pelukannya masih terasa erat di dadaku walah mulai membias berbaur embun pagi.

Raga ini masih termenung di taman sampai jam tiga pagi, ya, sampai jam tiga pagi aku masih termenung. Segala macam angan datang tak tentu arah dan terus semakin dalam, semakin jauh, semakin kacau.

 

Minggu, jam 05 pagi

Lamunanku makin jauh ke antah berantah, dan aku menggapai surga bersama Nola diiringi bidadari-bidadari negeri kayangan yang menebarkan bunga-bunga di permadani menuju singgasana.

Drrrrrrt….drrrrrrt” bunyi Hpku bergetar di bangku taman tepat di atas kepalaku, kemudian kulihat, “Nola?!”

“Assalamuala’kum” suara diseberang agak parau..

“Wa’alakum salam,” jawabku agak bingung, sebab yang nelpon bukan Nola, tetapi Ibunya.

“Jon, coba lihat nola di kamarnya”  nadanya sangat parau dan langsung menutupnya.

Aku bingung sekali, sebab tiada biasanya Ibunya Nola meneleponku dengan nada seperti itu, ah…jangan berpikiran buruk barangkali saja Hp Nola ketinggalan di rumahnya, namun tiba-tiba aku merasa khawatir, dan bersamanya pula ketakutan-ketakutan yang tidak lazim turut serta datang kepadaku.

Tanpa banyak yang aku pikirkan lagi, aku langsung bergegas menuju kostnya Nola. Aneh! disepanjang  perjalanan aku terus memikirkan Nola, kekhawatiranku  semakin tak beralasan.

Tepat di depan pintu kostnya Nola aku bingung, mau apa pagi-pagi sudah datang ke kostnya Nola, sempat terpikir untuk kembali saja, sebab tiada alasan yang tepat untuk kukatakan pada Nola, jika ia bertanya ada apa? Tetapi pesan Ibunya semakin mendesakku.

Sudah tiga kali aku mengucap salam, tetapi tiada suara yang menyahut dari dalam. Aku mencoba membuka pintunya. Pintunya tidak terkunci, dan membuat kekhawatiranku semakin memuncak.

Syukurlah, gumamku dalam hati, saat aku mendapati Nola sedang bersujud dengan khusyu. Aku langsung pulang setelah menulis pesan untuk menemuiku jam enam sekalian joging, sebab saat itu aku pun belum shalat.

 

Minggu, jam 06 pagi  

            Rembulan sisa semalam masih tergeletak di langit. Tubuhnya sedikit tetutupi gumpalan awan hitam. Sepi masih menyertai pagi dan kalutnya hati. Sudah setengah jam aku menunggu Nola, tetapi ia belum juga datang. Aku menjadi penasaraan, tekait kejadian tadi saat Ibunya menelepon.

            Dengan kantuk yang masih tersisa aku ke kostnya Nola lagi, dan berharap ia sudah siap untuk lari pagi. Tirai jendelanya masih tertutup seperti tadi, ah mungkin ia ketiduran, tetapi pintunya pun tetap tak terkunci. Aku langsung masuk, dan lebih masuk lagi.

            “Nola?!” aku kaget dan tersentak, Nola masih bersujud seperti tadi, komputernya masih menyala, dan bertuliskan JONI I LOVE YOU dengan font yang sangat besar sebagai judul cerpenya.

            Masih dengan kebingungan yang bercampur khawatir kusentuh Nola yang masih bersujud, Nola langsung tergeletak dan tiada bergerak lagi. Ia telah pergi untuk selama-lamanya.   

 

 

 

07:37 Posted in cerpen | Permalink | Comments (0) | Email this

The comments are closed.