Sunday, 18 February 2007

tentang narsih

sabtu kemarin suaranya masih nyaring di telingaku
mas, jangan tinggalkan aku
begitu katanya
dengan tangan masih erat memeluk tubuhku
tapi suaranya nyaringnya membawa pilu yang begitu tajam menusuk di jantungku
semuanya sampai
luka duka dan nyeri yang ia lewati
membekas di matanya dengan tetes airmata yang jatuh di bahuku

pagi kemarin
wajahnya masih sumringah melempar senyum di pagi hari
mas, diminum kopinya nanti keburu dingin
tangan halusnya pun masih terasa di bahuku
setiap kali ia memijat bahuku sepulang kerja
mas, jangan terlalu capek, nanti mas sakit

malam ini
tak lagi kudengar rintih dari kamarnya
seperti tak ada duka yang pernah singgah
tak lagi kulihat ia duduk termenung di jendela
seperti tak ada cerita yang selalu ia renungkan

tujuh tahun yang lalu aku bertemu dengan narsih
kala ia menangis tersedu di bawah pohon randu dekat pos ronda
ia sendiarian…
lalu aku membawanya pulang dan mengurusnya seperti adiku sendiri
sampai hari ini ia masih seperti adiku
tapi har ini
ia mengihilang dari hidupku
ia berlalu bersama mata hari
entah
kemana ia berlalu anginpun tak tahu

hanya pesan yang ia tinggalkan di meja kamarnya
mas, jangan lupa minum obatnya
itu saja
ya itu saja dari narsih

galuh, 25 oktober 2006

17:09 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this

The comments are closed.