Sunday, 20 May 2007

Pembaringan Terakhir

Tak pernah terpikir sebelumnya

Jika kita akan bertemu dalam pertempuran ini

(sebelumnya kita pernah jumpa dalam mimpi pada episode perkawinan)

 

Aku tak pernah menyangka

Jika kita akan berbagi kepedihan luka luka peperangan

(sebelumnya kita pernah terluka saat jatuh dari pohon mangga masa kecil dulu)

 

Tiada jua aku membayangkan

Jika kita akan mengangkat senjata bersama

(sebelumnya kita pernah angkat tangan bersama saat ditodong preman dekat lorong tua sebrang stasiun tempat kamu menjahit)

 

Aku sungguh tak berdaya

Sekarang kita terbaring bersama dalam gaun merah putih

(sebelumnya kita pernah berbaring di padang rumput sambil melepas gundah dan menarawang angkasa yang bergemintang nan elok)

 

Sekarang engkau berbaring membisu

Tida satu kata yang ucap

(sebelumnya sebelum engkau terbujur sempat berkata; kapan kita akan berlari ke atas bukit lagi menjemput embun dikala pagi)

 

Sungguh

Aku ingin menemanimu berbaring

Sepangjang sisa usiaku

Melepas segala letih usai kita berperang

            Aku masih mengenakan selendang yang kau ikat ditanganku

(maaf, sudah kumel dan berlumur darah sebab tempo hari saat aku membopongmu lenganku tertembak)

            Sekarang selendang ini akan ku ikat dimata

Agar kita sama berada dalam gelap

Dan perlahan akan kubiarkan asmaku kambuh

Sebab aku masih terbaring dan memelukmu

(tak sempat mengambil obat, maaf)

Dan akan aku biarkan malam sunyi dingin menikamku

dengan sisa sisa letih yang tertunda

beserta engkau semuanya akan tiada terasa Lenteng Agung, 16 Oktober 2006

17:10 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this

The comments are closed.