Monday, 21 January 2008
Wajah Bulan
Biarkan aku tulis segala gelisah
Yang tak kunjung reda
Dan membuat ku semakin pasrah
Adalah wajah bulan
Pucat pasi. Di balik senyummu yang membawa luka
Dan aku tetap menikmati setiap sayatannya
Adalah wajahmu
Membayang di purnama. Usai hujan yang tak jadi
Lalu temani rembulan
Suka atau lukakah yang aku kunyah
Sebab ini lidah menjadi tak bertuah
Semakin bisu dan beku tekurung waktu
Kita semakin jauh
Dari setiap genggaman yang begitu erat
Pada roda waktu
Sedang kau masih saja menjawab
Aku bukan puranama yang kau lihat.
Tapi waktu
Adakah kau fatamorgana
Dari bayang bayang yang menjadi bayangan
Setiap perpaduan rasa
Biarkan aku tulis
Segala gelisah yang tak sudah
Meski jadi gundah
Biar aku lukis
Setiap jengkal dari jarak kita
Setiap helaan nafas perjumpaan kita
; sekali pun kau fatamorgana
aku masih menyaksikan wajahmu di balik bulan
ciputat menjelang purnama, 20 januari 2007. 21.33
14:55 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: bulan, wajah, pasrah, menikmati
Saturday, 19 January 2008
Kesaksian dari Cipasung bag-2
Pagi hari. satu hari selepas upacara pelepasan almarhum tercinta. Cipasung terasa sunyi. kehilangan yang mendalam merasuk sampai ke ulu hati. bunga-bunga nampak layu. langit muram dan temaram. Aku masih di kota itu. Kota santri. Ya, Tasik kota santri.
Seperti kembali kepada dulu. suara riuh santri yang sedang menghafal kitab-kitab, tiba-tiba ingatkan aku pada kepolosanku pada masa itu. ya, zaky yang polos...hehe...bila teringat itu aku suka malu pada diriku yang sekarang. dahulu, aku suka menghafal kita-kitab sampai benar benar hafal, pergi mengaji. kemasjid untuk berjamaah...semuanya teringat begitu saja. bahkan ketika hari-hari kenakalankupun begitu jelas menampurku di jendela waktu.
Cipasung, aku haturkan salam pada bait doaku. aku sampaikan doa pada shalatku. aku akan kembali untuk membalas semua budimu, dan sebagai tebusan atas kenakalanku yang telah lalu....begitu kira-kira aku berguam saat semua kenangan masa lalu datng berkunjung.
hampir satu minggu lebih aku berada di Cipasung. ya, seminggu lebih, soalnya setelah Haul KH. Ruhiat pun, aku masih berada di sana. inginku masih berlama-lama. tapi, apa daya...di kota Jakarta sudah banyak yang mengguku, dan kendala utama sudah tidak memungkinkan untuk bertahan ebih lama lagi. bagai mana bisa? Sampai ke ciputa lagi pun, aku ngamen...hehe....jadi malu...
udah...ah...entar aja bikin kisah yang seru...biar jadi cerpen...doakan aku ya....yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
14:29 Posted in catatan | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: cipasung, kota santri, dingin, senyap, kitab, upacara, cerpen


