Tuesday, 01 January 2008
sajak dari AS Sudjatna; Yogyakarta
Kabar dari cipasung
(untuk mengenang wafatnya K.H. Ilyas Ruhiat)
Satu-satu daun berguguran
jatuh ke bumi dimakan usia
tak terdengar tangis
tak terdengar tawa
redalah....reda...
telah kutancapkan tiang-tiang ini diatas bumi
maka janganlah kalian kehilangan arah
pandanglah..!
kokoh tiang cahaya yang menancap di bumi cipasung ini
lalu peganglah kuat-kuat
dan janganlah bumi cipasung ini kau banjiri air mata
tak ada air mata dalam kepergianku
jalan telah ku retas
jangkar telah ku angkat
layar telah kukembangkan
maka jangan kau biarkan angin berlalu tanpa kau tangkap dalam layar citamu
apa arti diriku bagimu
jika hanya air mata yang kau tumpahkan?
Apa arti tetes keringatku
jika hanya tetes air mata yang kau persembahkan?
Apa arti kucuran darahku
jika hanya tangis yang kau kucurkan?
redakan tangismu..!
usap air matamu..!
angkat wajahmu..!
tataplah fajar di bumi cipasung ini..!
dia tak kan pernah mengingkari janjinya
maka berjanjilah padaku
untuk tetap setia membumikan cipasung disetiap langkah hidupmu
tugasku selesai sudah
kini giliranmu menjaga kibaran panji yang telah kutancapkan
tancapkanlah dihatimu
agar tak lekang
biar tak meradang
besok
pada hari yang telah ditentukan
kau akan ditanya tentang amanatku ini
maka jangan kau mengecewakanku
cabutlah segala duka dihatimu
mulai hari ini
berjanjilah
kau akan terus melangkah bersama kobaran semangatku
yang tak pernah mati.
satu-satu tunas muda bersemi
mengisi hidup gantikan yang tua
tak terdengar tangis
tak terdengar tawa
redalah...reda...
yogyakarta, 18 desember 2007
A.S.Sudjatna
18:49 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: cipasung
Kesaksian dari Cipasung
Innalillahi wa innailaihirraajiuun...telah berpulang ke rahmatullah...bapak KH. Moh. Ilyas Ruhiat, pinpinan pondok pesantren cipasung singaparna tasikmalaya...jam 16.30, begitu bunyi sms yang aku terima pada hari selasa tangga 18 desember 2007...percaya atau tidak, satujam sebelumnya aku dan kawan kawan alumni baru saja membicarakan perihal keberangkatan kami ke cipasung...untuk mengikuti Haul Abah Ruhiat....juga membicarakan kesehatan pak kiai ilyas...
hampir setengah jam setelah menerima sms itu, aku seperti manusia kehilangan, kalang kabut...dan hanya bisa kirim sms ke saudara alumni yang lain...besar ke ingninanku menngikuti pemakaman beliau, sampai-sampai aku berusaha keras untuk berangkat, padahal aku sadar, saat itu aku hanya mengantongi uang sekitar 30 ribuan tak lebih...lalu aku mondar mandir sana sini sampai akhirnya aku berangkat dari terminal kampung rambutan sekitar jam sebelas malam.
sepanjang jalan, wajah teduh pak ilyas membayang dalam ingatan ku, aku teringat katika aku lagi smp...saat aku menemui beliau, betapa teduhnya berada di dekat beliau. saat itu aku mau mengikuti lomba cerdas cermat bersama salah satu cucunya ahmad zamaksyari siddiq yang kini tengah menyelesaikan studinya di ITB. kami meminta doa dari beliau. ya walaupun cerdas cermatnya kalah...tapi keteduhan yang aku dapatkan saat di sisi beliau sungguh terasa sampai sekarang.
selama perjalanan menuju cipasung, banyak sekali ketegangan yang nyaris menggagalkan ku mengikuti pekaman. yang pertama waktu masih d ciputat, aku nyaris menabrak kucing, motor kempes, hampir jatuh di tikungan, menunggu bis satujam lebih...lalu setelah di perjalanan dalam bis menuju tasik...sang sopir mengemudikan mobil dengan sangat metal...betapa tidak bayangkan...aku bertolak dari terminal jam 11 sampe tasik jam 3 20 menitan...ak sudahlahlah aku tak berani membayangkan lagi metalnya tuh sopir...
tepat pas di cipasung selasai shalat subuh, aku sampai di bibir gerbang pesantren...o...betapa dinginnya cipasung...tapi aku mencium haru pilu yang sarat dan dalam.tak tersa, air mataku menetes dan membasahi pipiku. aku menjadi semakin rapu...kulihat karangan bunga sepanjang pesantren, mewakili kehilangan indonesia atas kiai santun...aku jadi makin sedih, manakala melihat ke garasi yang dulu ada motor bebek merahnya, sepeda motor yang membuat aku bisa bawa sepeda motor...yang dulu sering kukendarai diam diam sama cucunya...hehe...jadi malu,...sekarang motor itu lenyap diambil maling sinting...
aku langsung bergegas menuju masjid, kuambil wudu dan rasakan sejuknya udara cipasung...lalu kulaksankan shalat sebagai mana mestinya...lama kupandangi tubuh yang sudah terbujur, tak berdaya danmun masih menyimpan daya...tak bergerak namun masih menghasilkan gerakan gerakan,...selamat jalan wahai kau sang maha guru...
pagi hampir tiba...matahari sudah menampakan diri. cipasung tiba-tiba menjadi lautan manuisa...dari timur, dari barat, dari seluruh pelosok berbondong bondong mengikuti upacara pemakaman. di sinilah, upacara terakhir menghatar jenajah yang paling unik. semua yang hadir berbaris berhadap-hadapan, dari pintu masjid sampai pintu makam. kemudian jenajah berjalan diatas tangan yang tengadah dan masih bisa menyentuh tubuh beliau yang terakhir.
"baris yang rapih"... teriak salah seorang petugas keamanan. suasana yang tadinya khidmat tiba-tiba menjadi gaduh...salah seorang yang hadir ternyata tidak mau melepas jenajah saat melewati tangannya...ia ngikut...sudah tubuhnya gendut...nyerobo, maksa...dan "aw!!!" dia menabraku, aku terseret, terdorong terjepit...semua jadi kacau...aku nyaris tak berdaya...hati menjerit... yaa allah ijin aku menggapai beliau sebagai permohonan maaf ku ketika masih mpndok di cipasung...aku makin terdesak...sampai akhirnya aku pasrah...ya sudahlah ini kehendak tuhan, jika aku tak diridloi dan dimaafkan pa kiai.
aku terkaget, sebab entah kenapa, tiba-tiba barisa agak rapi lagi, meskipun sekarang jenajah sudah diapit dan digotong. jenajah tepat menuju ke arahku...dan akhirnya aku bisa menyentuhnya dan menciumnya...setelah air mata tak lagi dapat kuseka....dan pada saat saat tersendu, aku menagis...sampai akhirnya aku ikhlas pada kepulangan beliau.
upacara sudah selesai. hadirin pulang kembali ketempatnya masing-masing....mulailah perlahan, pelan sarat dan dalam...cipasung hening...dingin...kaku beku...
bersambung... pada kesaksian 2
18:39 Posted in catatan | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: cipasung, kh ilyas


