Sunday, 26 April 2009
pada sebuah malam
Malam mengantarku pada perjamuan panjang
Purnama terkikis disaksikan kelepak kelelawar yang mencari makan
Satu persatu kata-kata bertautan dalam mulutku
Bermuntahan
Berloncatan seperti ikan-ikan di kolam hati
Mega mendung masih menggelayutkan dirinya di gelap malam
Sementara bibirku masih asik mengunyah
Kata-kataku sendiri
Perjamuan masih terus berlanjut
Antara sunyi dan sepi
Menjadi rindu yang perih
Pada setiap setiap percakapan yang terlontar
2009
15:27 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: sajak
Sunday, 06 July 2008
bersiaplah
perjalanan belum lagi diteruskan
masih saja berdiri dengan satu kaki, berjalan
di tempat
makin merepat tak parat
perjalanan belum lagi dirumuskan
napas kita sudah terengah
setengah pasrah
menyerah pada keadaan
kita semakin tertindas
alam bawah sadar kita sedang dalam peperangan
dirampas dan diperas
tapi kita tak sadar sadar apalagi menyadarkan
bolehlah kita melihat pembangunan di sana sini
gedung bertingkat terus berarak pinak
mendapat bantuan dari sana sini
tapi kemiskinan belum juga beranjak
siapa yang mau disalahkan
kita atau mereka
raga kita sudah terlalu lama terjajah
jangan sampai jiwa kita terjarah
penjajahan pada bangsa ini beum usai
namun tak satu pelurupun akan diledakkan
sebab peluru tak lagi mereka pakai
jiwa kita, akal kita, budi kita sedang menjadi sasaran
berdiri sekarang
atau tetap dengan satu kaki
juli 2008
17:40 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: sajak
Monday, 21 January 2008
Wajah Bulan
Biarkan aku tulis segala gelisah
Yang tak kunjung reda
Dan membuat ku semakin pasrah
Adalah wajah bulan
Pucat pasi. Di balik senyummu yang membawa luka
Dan aku tetap menikmati setiap sayatannya
Adalah wajahmu
Membayang di purnama. Usai hujan yang tak jadi
Lalu temani rembulan
Suka atau lukakah yang aku kunyah
Sebab ini lidah menjadi tak bertuah
Semakin bisu dan beku tekurung waktu
Kita semakin jauh
Dari setiap genggaman yang begitu erat
Pada roda waktu
Sedang kau masih saja menjawab
Aku bukan puranama yang kau lihat.
Tapi waktu
Adakah kau fatamorgana
Dari bayang bayang yang menjadi bayangan
Setiap perpaduan rasa
Biarkan aku tulis
Segala gelisah yang tak sudah
Meski jadi gundah
Biar aku lukis
Setiap jengkal dari jarak kita
Setiap helaan nafas perjumpaan kita
; sekali pun kau fatamorgana
aku masih menyaksikan wajahmu di balik bulan
ciputat menjelang purnama, 20 januari 2007. 21.33
14:55 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: bulan, wajah, pasrah, menikmati
Tuesday, 01 January 2008
sajak dari AS Sudjatna; Yogyakarta
Kabar dari cipasung
(untuk mengenang wafatnya K.H. Ilyas Ruhiat)
Satu-satu daun berguguran
jatuh ke bumi dimakan usia
tak terdengar tangis
tak terdengar tawa
redalah....reda...
telah kutancapkan tiang-tiang ini diatas bumi
maka janganlah kalian kehilangan arah
pandanglah..!
kokoh tiang cahaya yang menancap di bumi cipasung ini
lalu peganglah kuat-kuat
dan janganlah bumi cipasung ini kau banjiri air mata
tak ada air mata dalam kepergianku
jalan telah ku retas
jangkar telah ku angkat
layar telah kukembangkan
maka jangan kau biarkan angin berlalu tanpa kau tangkap dalam layar citamu
apa arti diriku bagimu
jika hanya air mata yang kau tumpahkan?
Apa arti tetes keringatku
jika hanya tetes air mata yang kau persembahkan?
Apa arti kucuran darahku
jika hanya tangis yang kau kucurkan?
redakan tangismu..!
usap air matamu..!
angkat wajahmu..!
tataplah fajar di bumi cipasung ini..!
dia tak kan pernah mengingkari janjinya
maka berjanjilah padaku
untuk tetap setia membumikan cipasung disetiap langkah hidupmu
tugasku selesai sudah
kini giliranmu menjaga kibaran panji yang telah kutancapkan
tancapkanlah dihatimu
agar tak lekang
biar tak meradang
besok
pada hari yang telah ditentukan
kau akan ditanya tentang amanatku ini
maka jangan kau mengecewakanku
cabutlah segala duka dihatimu
mulai hari ini
berjanjilah
kau akan terus melangkah bersama kobaran semangatku
yang tak pernah mati.
satu-satu tunas muda bersemi
mengisi hidup gantikan yang tua
tak terdengar tangis
tak terdengar tawa
redalah...reda...
yogyakarta, 18 desember 2007
A.S.Sudjatna
18:49 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: cipasung
Friday, 26 October 2007
Pada rintik hujan kesekian
Wajahmu menetes di pipiku
Basahi seluruh tubuhku, lalu membayang
Pada gelapnya malam
Pasa rintik hujan kesekian
Langkah kakiku terhenti
Suaramu makin deras
Berubah hujan
Yang lebat, memanggil namaku
Aku merasa kesepian, asing
Pada rintik hujan kesekian
Singaparna, 27 Juli 2007
16:19 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this
Sunday, 20 May 2007
Pembaringan Terakhir
Tak pernah terpikir sebelumnya
Jika kita akan bertemu dalam pertempuran ini
(sebelumnya kita pernah jumpa dalam mimpi pada episode perkawinan)
Aku tak pernah menyangka
Jika kita akan berbagi kepedihan luka luka peperangan
(sebelumnya kita pernah terluka saat jatuh dari pohon mangga masa kecil dulu)
Tiada jua aku membayangkan
Jika kita akan mengangkat senjata bersama
(sebelumnya kita pernah angkat tangan bersama saat ditodong preman dekat lorong tua sebrang stasiun tempat kamu menjahit)
Aku sungguh tak berdaya
Sekarang kita terbaring bersama dalam gaun merah putih
(sebelumnya kita pernah berbaring di padang rumput sambil melepas gundah dan menarawang angkasa yang bergemintang nan elok)
Sekarang engkau berbaring membisu
Tida satu kata yang ucap
(sebelumnya sebelum engkau terbujur sempat berkata; kapan kita akan berlari ke atas bukit lagi menjemput embun dikala pagi)
Sungguh
Aku ingin menemanimu berbaring
Sepangjang sisa usiaku
Melepas segala letih usai kita berperang
Aku masih mengenakan selendang yang kau ikat ditanganku
(maaf, sudah kumel dan berlumur darah sebab tempo hari saat aku membopongmu lenganku tertembak)
Sekarang selendang ini akan ku ikat dimata
Agar kita sama berada dalam gelap
Dan perlahan akan kubiarkan asmaku kambuh
Sebab aku masih terbaring dan memelukmu(tak sempat mengambil obat, maaf)
Dan akan aku biarkan malam sunyi dingin menikamku
dengan sisa sisa letih yang tertunda
beserta engkau semuanya akan tiada terasa Lenteng Agung, 16 Oktober 200617:10 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this
Sunday, 18 February 2007
tentang narsih
sabtu kemarin suaranya masih nyaring di telingaku
mas, jangan tinggalkan aku
begitu katanya
dengan tangan masih erat memeluk tubuhku
tapi suaranya nyaringnya membawa pilu yang begitu tajam menusuk di jantungku
semuanya sampai
luka duka dan nyeri yang ia lewati
membekas di matanya dengan tetes airmata yang jatuh di bahuku
pagi kemarin
wajahnya masih sumringah melempar senyum di pagi hari
mas, diminum kopinya nanti keburu dingin
tangan halusnya pun masih terasa di bahuku
setiap kali ia memijat bahuku sepulang kerja
mas, jangan terlalu capek, nanti mas sakit
malam ini
tak lagi kudengar rintih dari kamarnya
seperti tak ada duka yang pernah singgah
tak lagi kulihat ia duduk termenung di jendela
seperti tak ada cerita yang selalu ia renungkan
tujuh tahun yang lalu aku bertemu dengan narsih
kala ia menangis tersedu di bawah pohon randu dekat pos ronda
ia sendiarian…
lalu aku membawanya pulang dan mengurusnya seperti adiku sendiri
sampai hari ini ia masih seperti adiku
tapi har ini
ia mengihilang dari hidupku
ia berlalu bersama mata hari
entah
kemana ia berlalu anginpun tak tahu
hanya pesan yang ia tinggalkan di meja kamarnya
mas, jangan lupa minum obatnya
itu saja
ya itu saja dari narsih
galuh, 25 oktober 2006
17:09 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this
Wednesday, 29 November 2006
Pada Hendri
Perjalanan ini adalah bayangan usia yang engkau kunyah
Langkahmu adalah kata kata waktu
Yang setiap detiknya melahirkan sejarah
Dari ejaan ejaan nafas yang kau hembuskan
Lamat lamat
kata usia dalam aortamu akan menua
mejadi keriput dan tertelan jaman
berbahagialah dalam teriakanmu yang lantang
dengan sabda sabda indahmu
semoga malam akan mengengan
setiap huruf yang pernah kau enyahkan dari jiwamu
Lenteng Agung, 16 Agustus 2006
17:33 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this
Surat Seorang Pejuang Kepada Istrinya
usah kau bersedih mengarungi malam
aku bersamamu masih menggengam senapan
dan akan menemanimu hingga lewati kegelapan
sayang
perjuangan kita belum usai
dan tidak akan pernah usai
sekali pun aku mati dan engkau juga mati
sebab semangat kita ada yang meneruskan nanti...
sayang
jangan pernah engkau menaruh kesedihan dalam perjuangan
sebab dengannya perjuangan akan makin terasa lamban
biarkan kesedihanmu mengalir laksana air
untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air
sayang
do’amu menyertaiku di medan perang
Lenteng Agung, 15 Agustus 2006
17:25 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this
Tuesday, 22 August 2006
biarkan saja
selepas malam menghantam
pada jiwa jiwa yang lelah menunggu waktu
angin hanya bisa berkata
malam adalah jutaan kepedihan pada sisi gelapnya
lalu aku meraba pada jalan panjang perjalan
selepas pagi datang menampar lewat cahaya surya
angin hanya bisa menjawab segala tanyaku
dengan hembusannya yang renta
adalah raga ini yang mulai lelah menunggu waktu
satu persatu detiknya bergugurang di awal musim semi sang menit
aku hanya menunggu dan hanya menuggu
tak pasti raga ini berjalan menuju kemana
dan angin hanya bisa bergumam
biarkan saja
Ciputat, 23 agustus 2006
21:07 Posted in sajak | Permalink | Comments (0) | Email this


