Saturday, 19 January 2008

Kesaksian dari Cipasung bag-2

Pagi hari. satu hari selepas upacara pelepasan almarhum tercinta. Cipasung terasa sunyi. kehilangan yang mendalam merasuk sampai ke ulu hati. bunga-bunga nampak layu. langit muram dan temaram. Aku masih di kota itu. Kota santri. Ya, Tasik kota santri.

Seperti kembali kepada dulu. suara riuh santri yang sedang menghafal kitab-kitab, tiba-tiba ingatkan aku pada kepolosanku pada masa itu. ya, zaky yang polos...hehe...bila teringat itu aku suka malu pada diriku yang sekarang. dahulu, aku suka menghafal kita-kitab sampai benar benar hafal, pergi mengaji. kemasjid untuk berjamaah...semuanya teringat begitu saja. bahkan ketika hari-hari kenakalankupun begitu jelas menampurku di jendela waktu. 

Cipasung, aku haturkan salam pada bait doaku. aku sampaikan doa pada shalatku. aku akan kembali untuk membalas semua budimu, dan sebagai tebusan atas kenakalanku yang telah lalu....begitu kira-kira aku berguam saat semua kenangan masa lalu datng berkunjung.

hampir satu minggu lebih aku berada di Cipasung. ya, seminggu lebih, soalnya setelah Haul KH. Ruhiat pun, aku masih berada di sana. inginku masih berlama-lama. tapi, apa daya...di kota Jakarta sudah banyak yang mengguku, dan kendala utama sudah tidak memungkinkan untuk bertahan ebih lama lagi. bagai mana bisa? Sampai ke ciputa lagi pun, aku ngamen...hehe....jadi malu... 

 udah...ah...entar aja bikin kisah yang seru...biar jadi cerpen...doakan aku ya....yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu